Jakarta, 17 Februari 2026 – PP KAMMI secara resmi meluncurkan Gerakan Ramadhan Asri dalam rangkaian Kick Off Milad ke 28 di Sofyan Hotel. Gerakan ini dikomandoi oleh Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai konsolidasi nasional kader KAMMI untuk menghadirkan aksi ekologis selama bulan Ramadhan melalui kerja lapangan, advokasi kebijakan, serta pencerdasan publik.
Peluncuran ini dilandasi kondisi pengelolaan sampah nasional yang masih jauh dari ideal. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2025, timbulan sampah Indonesia berada pada kisaran 27 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, tingkat pengelolaan baru sekitar 34 persen, sementara sisanya berakhir di tempat pemrosesan akhir, dibakar terbuka, atau mencemari lingkungan. Komposisi sampah nasional masih didominasi sampah organik lebih dari 40 persen dan plastik di atas 18 persen. Pada periode Ramadhan, peningkatan konsumsi rumah tangga dan penggunaan kemasan sekali pakai mendorong kenaikan sampah plastik harian hingga sekitar 24 persen di sejumlah wilayah perkotaan.
Ketua Bidang LHK PP KAMMI, Aulia Furqon, menilai bahwa persoalan sampah mencerminkan problem struktural tata kelola dan budaya konsumsi. “Angka 27 juta ton dengan pengolahan 34 persen menunjukkan adanya kesenjangan serius antara produksi sampah dan kapasitas sistem. Ramadhan tidak boleh memperparah krisis ini. Melalui Ramadhan Asri, kami mengarahkan kader KAMMI di seluruh Indonesia untuk melakukan aksi bersih lingkungan, penguatan bank sampah, edukasi pengurangan plastik sekali pakai, serta advokasi kebijakan pengelolaan sampah berbasis data di tingkat daerah,” tegasnya.
Furqon menambahkan bahwa pendekatan gerakan dibangun di atas tiga pilar utama yaitu aksi langsung, advokasi regulasi, dan literasi publik. Ia menekankan pentingnya mendorong implementasi kebijakan pengurangan sampah di hulu melalui pembatasan plastik sekali pakai serta optimalisasi pemilahan dari sumber. Menurutnya, tanpa perubahan perilaku dan penguatan tata kelola, peningkatan timbulan sampah saat Ramadhan akan terus berulang setiap tahun.
Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Jundi, menyampaikan bahwa Milad ke 28 menjadi momentum konsolidasi gerakan mahasiswa Islam dalam menjawab krisis ekologis. “KAMMI harus hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual. Isu lingkungan bukan isu pinggiran. Ini menyangkut keadilan antar generasi, kesehatan publik, dan keberlanjutan ekonomi nasional. Ramadhan Asri adalah komitmen kami agar nilai ibadah sejalan dengan tanggung jawab menjaga bumi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa jaringan kader KAMMI yang tersebar di berbagai provinsi memiliki posisi strategis untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat. Gerakan ini diharapkan mampu menekan peningkatan sampah selama Ramadhan, memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, serta mendorong praktik konsumsi yang lebih bertanggung jawab di masjid, kampus, dan ruang publik.
Melalui Ramadhan Asri, PP KAMMI menargetkan lahirnya gelombang aksi ekologis nasional sepanjang bulan Ramadhan 2026. Gerakan ini diharapkan menjadi kontribusi konkret mahasiswa dalam membersihkan, melestarikan, dan menghadirkan Indonesia yang lebih asri secara berkelanjutan.






